LELAKI
JAWA SEJATI
Udara yang seakan mengguluti seluruh tendon hingga sumsum
tubuh ini begitu luar biasa.Mungkin pagi ini memberikan menu baru di awal
minggu,si jago merah memberikan sinarnya tanpa meminta sepersen pun dari ember
yang merasakannya.Indahnya alam memberikan kesan fenomanial bagi insane yang
menikmatinya.Hamparan lautan yang di dalamnya tersimpan kekayaan alam yang luar
biasa menjadi embe khas negri ini.
Negri ini? Negri siapa? Negri kita
bersama,Indonesia.Sebuah negri yang dihuni oleh ratusan jiwa manusia,hamparan
pulau yang membentang,kekayaan alam yang melimpah,sebuah negri yang terdiri
dari suku,bangsa,dan budaya yang beranekaragam.Semua perbedaan itu terangkum
dan bersatu di dalam kalimat ‘INDONESIA’
Sebuah kalimat singkat tetapi membutuhkan banyak
pengorbanan untuk tetap memperjuangkannya.Banyak darah yang bercucuran,banyak
nyawa yang melayang,banyak harta yang di korbankan demi berkibarnya si merah
putih.Tidak mengenal golongan semua ikut berpartisipasi dan bersatu mengerahkan
semua tenaga demi perginya para penjajah.Banyak suka dan duka yang dialami para
pejuang dan semua itu terangkum lagi-lagi di dalam kalimat ‘INDONESIA’.Kini
Indonesia telah merdeka,perjuangan selama ini membuahkan hasil.Para penjajah
telah mengangkat bendera putih yang berarti menandakan mereka telah menyerah.
* *
* *
Pagi belum telihat terang,suasana gerimis menjadi
pelengkap pagi itu.Kulihat jam yang menempel di dinding kamar ku masih
menunjukkan pukul empat lewat seperempat menit.Suasana gerimis menjadi pelengkap
indahnya tidur di saat itu,jam segitu wajar rasanya masih bermanja-manja di
tempat tidur.Di temani dengan sebuah bantal dan di lindungi dengan sebuah
selimut menjadi pelengkap mimpi-mimpi di pagi hari.Gerimis tidak sepenuhnya
berkuasa pagi itu sebab sang mentari kembali mengambil perannya untuk seember
sinar ke dunia.
Suara gosengan kuali menjadi hal yang biasa yang setiap
hari aku dengar,suara itu menjadi langganan bagiku.Tidak jarang aku selalu
terbangun karena suara-suara itu.Aroma masakan membawa kaki ini melangkah
menghampiri sumber aroma itu,ternyata di balik indahnya mimpi-mimpi itu di
kehidupan nyata masih terdapat hal-hal indah daripada harus bermimpi.
Suara gosengan kuali itu semakin terasa di
telingaku,seperti terhipnotis kaki ini ingin membawa ku keluar kamar dan menghentikan
mimpi-mimpi indah itu sejenak.
“Ibuu?? Kok masaknya cepat kali?” ujarku ketika keluar
dari kamar. “Mau masak jam berapa lagi coba nak? Habis masak pekerjaan rumah
ibu masih ada,kita itu harus pandai ngatur waktu” jawab ibu dengan nada yang
tidak begitu keras.
Mata yang tadinya masih mengantuk tiba-tiba mulai
terbelalakakibat hirupan udara segar di luar rumah.Angin yang berhembus dari
segala arah,rerumputan dan ilalang bergoyang-goyang tanpa mementingkan ritme
irama,membuat semangat pagi semakin membara.
Desaku adalah desa terpencil yang jauh dari hiruk piruk
suasana pekotaan.Disana terdapat berbagai macam agama,suka dan budaya,tetapi
perbedaan itu terkumpul dan bersatu di dalam suatu desa yang bernama Aek
Tuhul.Orang-orang yang pergi bertani di pagi hari menjadi pemandangan yang
tidak asing lagi di mataku,begitulah pemandangan yang selalu menghiasi mata ini
di saat pagi hari.
“Bu, pagi-pagi gini mau kemana?” pertanyaan yang kadang
selalu ku ucapkan. “Mau ke lading nak.”jawab mereka dengan penuh semangat,
“Memang harus pagi-pagi begini yah bu perginya?”. “Iyaa dong nak.Kalau tidak
kerja ya tidak makan.” Jawabnya dengan nada yang sedikit menggertak halus.
Jawaban itu ibarat paluyang mengetuk hatiku. “ Iyaa ya, memang tidak mudah
untuk mencari uang.” Ujarku di dalam hati.
Angin semilir berhembus,menerpa wajahku dengan buaian
yang paling lembut.Mataku menerawang jauh,lepas ke tengah lautan yang
membentang.Seakan-akan jawaban tadi meninggalkan bekas di hatiku.Terawanganku
tadi tiba-tiba hilang dan seakan pergi menjauh dibawa oleh burung-burung yang
terbang melintas tepat di kepalaku
Ku bungkus angan-angan ku tadi dan segera ku buang ke
samudera terluas.Ku angkat tangan yang di hiasi oleh jam tangan,ternyata waktu
sudah menunjukkan tepat jam 1 siang,rerumputan dan ilalang menghentikan
tariannya.
Siang yang terang.Matahari membakar ganas semua makhluk
Tuhan yang bertebaran di muka bumi,tak terkecuali aku.Aku semakin
kesepian.Tatkala siang,aku sendirian menantang matahari.Burung-burung tidak
berani mendekat,bahkan untuk sekedar berzikir bersama.Layang-layang tak berani
bermain di sekitarku.Hanya capung yang sesekali mendekat,namun buru-buru
menyingkir karena tatapan mataku.
* *
* *
Desaku memang masih kental dengan kebudayaan dari para
penduduknya,semua bergandengan tangan dan melangkah bersama-sama walaupun ada
perbedaan di antara mereka.
“Sol….Sol….Sepatu!” Suara itu semakin akrab di
telingaku.Hampir bisa dipastikan menjelang pukul dua siang,suara itu melewati depan
rumahku.
“Nama saya Paijo,Mas,” jawab bapak tua saat ku Tanya
namanya. “Bapak orang jawa yah?” “Iyaa lho Mas!” jawabnya dengan nada yang
penuh percaya diri.
Pak Paijo,layaknya masyarakat Jawa yang begitu menjunjung
tinggi budayanya.Songkok bermotifkan batik selalu melekat di kepala
mungilnya.Budaya jawa masih menjadi cirri khas pak Paijo.
Pak Paijo merupakan cerminan masyarakat pedesaan yang
lugu.Desaku memang bukan desa metropolitan,tetapi untuk memperjuangkan hidup
butuh kerja keras.Pak Paijo sosok lelaki yang suka bercanda dan tidak pantang
menyerah.
Dari belum ayam berkokok,dengan hanya berbekal niat dan
semangat.Pak Paijo telah mengayuh sepeda tuanya melintasi panas teriknya
matahari.Senyuman lebar selalu menghiasi wajah pak Paijo di setiap saat.
“Kenapa bapak masih bekerja? Kan umur bapak sudah tidak
muda lagi.” Tanyaku sejenak.
“Mas,umur itu hanya angka tok.Apa hubungan umur dengan
semangat hidup Mas?” jawabnya dengan cepat
“Anak bapak ka nada,kenapa bapak harus bekerja lagi?”
pertanyaan kedua terusik di benakku.
“Mas,saya ini orang orang Jawa.Kata bapak saya dulu,hidup
ini tidak boleh tergantung kepada orang lain.Ya,…. Tujuan saya tetap
bekerja.Itu,Cuma itu Mas.Saya ingin menghadap Tuhan nantinya dengan menggenggam
dan menerima catatan kebaikan di tangan kanan saya.” Mata tua itu menerawang
jauh.Menenbus lapisan-lapisan kata yang tidak dapat mengurai makna.Nada-nada
tadi seakan-akan harapan baginya.
Nuansa Jawa sudah melekat pada diri pak Paijo,baik pola
pikirnya sampai tutur katanya.Semangatnya tidak akan pernah pudar oleh hujan
dan lekang oleh panas.Baginya umur itu tidak menjadi tolak ukur untuk tetap
bekerja.Di tengah hiruk piruk manusia yang terkuasai oleh egoisme,yang
terkejar-kejar materi,tapi entah lah aku tidak dapat mengargumentasikannya.
Tubuh kurus dan rambut yang dihiasi warna putih sudah
menjadi cirri pak Paijo.Semangatnya untuk tetap terus bekerja seakan-akan hari
demi hari terus bertambah.Tiap hari kakinya yang kurus selalu mendayung pedal
sepedanya,songkok di kepalanya melindungi kepala dari sengatan sinar
matahari.Bagiku pak Paijo adalah sosok pria Jawa yang sejati.
“Tidak capek bekerja terus pak?”, “Tidak lho Mas.” Senyum
lebar terpampang di wajahnya.
“Tapi?”, “Udah tua kan?” ia potong pertanyaanku.
“Bagiku umur tidak menjadi acuan,selagi saya masih hidup
tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.” Jawabnya dengan nada seakan-akan
member semangat.
Terkadang aku merasa terkucilkan ketika berada di hadapan
pak Parjo.Umur yang sudah tidak muda lagi tetapi semangatnya seperti pria
remaja,tetapi aku? Jauh….
* * * *
Tutur kata,senyuman serta lelucon pak Paijo telah ku
simpan di dalam memori kecil di otakku.Arahan dan motivasinya menjadi sarapanku
di siang hari.
Di balik itu semua,ternyata pak Paijo adalah orang yang
taat beragama.Terkadang pak Paijo bekerja sebagai pembersih di mesjid.Debu-debu
yang berada di mesjid sudah menjadi sahabat dekatnya.Hidungnya sudah terbiasa
menghirup udara yang tidak bersih,sebab pak Paijo harus bergelut dengan
debu-debu,semua itu dia lakukan demi rumah Allah walaupun kesehatan taruhannya.
Jalinan keakrabanku dengan bapak tua ini memberi nuansa
lain di hatiku.Usia yang semakin renta,kulit-kulit mulai keriput dan tenaga
yang mulai memudar seakan-akan menumbuhkan rasa kasihanku kepadanya.Aku hanyut
dalam rengkuhannya,dalam hangat napasnya yang menghembuskan ketentraman.Sekilas
ku pandang busana yang melekat di tubuhnya yang ramping.Songkok bermotifkan batik
tidak pernah lepas dari kepalanya,dia tampak seperti pria jawa sejati yang
telah termakan oleh usia.
Senja belum sempurna menggelam.Langit yang beberapa waktu
lalu terlihat mendung,kini kembali terang.Jam tanganku menunjukkan pukul
setengah tujuh kurang seperempat.Ku tekadkan niat untuk shalat berjamaah di
mesjid.Aku turun dari kereta yang kuparkir di halaman masjid,dengan semangat
aku berjalan ku tatap satu per satu orang yang berada di dalam masji.
Angin senja menampar pipiku sehingga aku menoleh ke arah
sudut kanan masjid,ternyata di sana sosok lelaki bersongkok yang bermotifkan
batik telah duduk bersila.Kepalanya tertunduk,mulutnya komat-kamit,tangan
kanannya memegang quran kecil.Dengan perlahan desat-desit telapak kakiku
menghampiri lelaki tua itu.Ketika ingin memulai percakapan dengannya,tiba-tiba
adzan berkumandang dan segara ku urungkan niatku tadi.
Jalanan sepi dan terkadang dedaunan berterbangan karna
hembusan angin,cahaya bulan serta kerlap-kerlip bintang di langit yang gelap
menjadi pelita bagiku dan pak Paijo yang menghiasi perjalanan kami berdua.Canda
serta lelucon pak Paijo mengisi kekosongan kami,tembakauyangia bungkus dengan
plastic terkadan ia hirup perlahan-lahan.
Esok hari jumat dimana pada saat hari itu pak Paijo
selalu membersihkan mesjid setelah selesai shalat subuh.Ku tekadkan sebuah niat
agar besok pagi aku dapat shalat berjamaah di mesjid.
*****
Ayam belum berkokok,sinar mentari belum menyingsing
tetapi alarmku telah berbunyi tepat pukul lima kurang seperempat.Bergegas aku
langsung ke mesjid agar dapat melaksanakan shalat berjamaah,tertanam niat di
hatiku.
Jalanan sepi serta dinginnya udara menjadi hal yag harus
ku lewati,tak heran terkadang sesekali kain sarung yang ku kenakan menari-nari
dibawa oleh hembusan angin.
Ku bawa kakiku memasuki rumah Allah,ku tatap satu per
satu wajah penghuninya,dan yap,itu dia! Seorang laki-laki dengan songkok motif
batik,siapa lagi kalau bukan pak Paijo.
Subuh pu berlalu,pagi mulai menyapa.Terheran
sejenak,semua jamaah sudah pergi meninggalkan masjid,tetapi pak Paijo malah
pergi ke ruangan belakang masjid dan membawa beberapa alat kebersihan.Teringat
di benakku,ini kan hari jumat,pak Paijo pasti selalu membersihkan masjid pada
hari itu.
“Pak! Kok belum pulang?”,
“Ini kan hari jumat,bapak harus membersihkan masjid untuk
persiapan shalat jumat nanti”ujarnya.
“Bapak ada dapat gaji?”,
“Ada nak,tapi hanya 30 ribu.Gaji dari hasil kebersihan
itu bapak kumpul untuk membeli sajadah dan akan ssaya sumbangkan ke
masjid.Hitung-hitung nambah amal,kan umur bapak sudah tua nanti kalo mati udah
ada bawak bekal.” Jawabnya dengan nada suara yang sangat mendalam.
Jawaban yang membuat aku terhening beberapa detik,kata-katanya
seperti palu besar yang mengetuk hatiku.Di zaman sekarang ini jarang dapat
orang seperti pak Paaijo,ujarku di dalam hati.
Tangannya yang kurus terlihat mahir menari-nari dengan
sapu yang berada di genggamannya,dan terkadang songkok yang ada di kepalanya ia
buka lalu ia pasang kembali.
“Beginikah rutinitas pak Paijo setiap hari jumat?”
tanyaku dalam hati
* * * *
Pagi datang menyapa.Udara segar pedesaan selalu menjadi
sajian utamaku,burung-burung kecil berpapasan lewat di hadapanku,menghiburku
dari kesepian dengan akrobatiknya di udara.Aktivitas warga-warga desa tidak
pernah luput dari pandanganku.
Cahaya mentari membakar seluruh isi alam semesta,tak
terkecuali aku.Teriakan lelaki tua itu selalu ku nantikan setiap pukul satu
siang.Lelucon serta nasehatnya mengisi kosongnya rohaniahku,logat jawanya
memberikan motivasi walaupun sebenarnya aku itdak mengetahui pasti apa arti
dari bahasa Jawa itu.Budaya Jawa masih sangat melekat pada sosok lelai tua itu.
Akhir-akhir ini suara teriakan khas pak Paijo tak pernah
unjung ku dengar lagi.Aku rindu pada suara itu.Timbul beribu satu macam
pertanyaan di kepalaku.Hari-hari tanpa pak Paijo,bagaikan sepeda tanpa
pedal.Pak Paijo yang telah mengajariku tentang pentingnya hidup.Serta tutur
katanya dalam bahasa Jawa telah menjadi hiburan di hari-hari penatku.
Pak Paijo adalah lelaki Jawa sejati,dia tidak pernah
melupakan budaya Jawa dari
orangtuanya.Hidup pak Paijo sangat keras,kata menyerah tak pernah keluar
dari mulutnya.Walaupun mulutnya telah dihiasi gigi-gigi ompong.
“Sol…Sol…Sepatu!”
Di siang bolong suara teriakan itu kembali
terdengar,segera ku langkahkan kaki sambil berlari-lari kecil hanya untuk
bertemu dengan pak Paijo.
Ada yang janggal dari diri pak Paijo,semangatnya sedikit luntur
walaupun tidak ia ketarakan secara langsung.
“Bapak darimana saja? Kok tidak pernah kelihatan?”
tanyaku dengan cepat.
“Tidak darimana-mana nak, bapak hanya berkurung di rumah
saja” jawabnya dengan nada yang lemas.
Semenjak kenal dengan pak Paijo,baru hari ini nada yang
kurang semangat ke luar dari mulutnya.Suasana terasa hening sejenak,burung
gereja yang bertengger di pepohonan perlahan menundukkan kepala.Terasa ada
isyarat kesedihan yang ingin diucapkan.
“Songkok bapak mana?”,
“Tidak kelihatan nak” raut wajah sedih tampak di mukanya
walaupun kesedihan itu ia tutupi dengan senyuman di wajahnya.
Aku tahu,pak Paijo pasti sangat kehilangan.Dia boleh
menyembunyikan rasa kesedihannya terhadap orang lain,tapi tidak
denganku.Jalinan keakrabanku dengannya sudah sangat erat.
Hari itu
Pak Paijo pernah bercerita tentang berharganya songkok
itu baginya.Pak Paijo bilang songkok itu adalah warisan ayahnya,warisan budaya
Jawa yang di turunkan kepada diri pak Paijo.Intinya songkok itu sangat berharga
bagi pak Paijo.
“Siapa yang tega mengambil songkok itu?”
“Tegakah dia senang di atas penderitaan orang lain?”
ujarku di dalam hati.
Di tengah-tengah suasana seperti itu,pak Paijo masih
sempat membuat lelucon kocak,sehingga raut kesedihannya tidak begitu menonjol
* * * *
Pagi itu
Cahaya mentari tidak sepenuhnya terlihat.Warna hitam dan
gelap menghiasi pagi itu,rutinitas warga pedesaan sama sekali belum terlihat.
Sayup azan subuh menggema di kejauhan,diantarkan
angin.Menembus dinding-dinding perumahan.Ku langkahkan kaki menelusuri
jalan-jalan sempit,dinginnya udara menjadi saksi bisu bagiku.Semilir angin
berhembus berbelok ke arah timur menampar sarung yang ku kenakan.
Seusai shalat subuh berjamaah aku dan pak Paijo
menjelajahi gelapnya situasi pagi itu,decitan sandalku dan sandal pak Paijo
membentuk sebuah irama yang tidak beraturan.Leluconnya tidak pernah absen di
setiap langkah kami.
“Nak, bapak bangga lho sama mu?”
“Bangga kenapa pak?” tanyaku dengan nada kebingungan.
“Gini lho,kamu rajin shalat berjamaah ke masjid.Sedangkan
anak saya malas sekali mendirikan shalat.” Ujar pak Paijo
“…..” aku hanya diam tanpa jawaban.
Pernyataan pak Paijo tadi seakan-akan memberikan kesan
perintah agar aku tidak melupakan shalat dan selalu mendekatkan diri pada Allah
SWT, ibarat harapan yang keluar dari diri pak Paijo yang akhirnya ia ungkapkan
juga.Makasih Pak Paijo.
Bagus 👍
BalasHapusBagus kali lah, cerpen selanjutnya di tunggu yah
BalasHapusBagus kali lah, cerpen selanjutnya di tunggu yah
BalasHapusBagus kali lah, cerpen selanjutnya di tunggu yah
BalasHapusBagus 👍
BalasHapusBagus 👍
BalasHapusNice
BalasHapusCeritanya menginspirasi :)
BalasHapusAnjay kali cerpen nya, lanjutkan bos
BalasHapusNiceeeeee, buatan sendiri?
BalasHapusNiceeeeee, buatan sendiri?
BalasHapusBagus lah
BalasHapusBagus kali bang 😉
BalasHapusBagussss kaliiii bang 😉😍
BalasHapusCerita bagus...
BalasHapusCuma masih ada beberapa typo contohnya pas di awal cerita itu yg "gosengan"
Baguss
BalasHapusseeep
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKeren
BalasHapusThanks infonya
BalasHapusThanks infonya
BalasHapusenakan bah ceritanya
BalasHapusKeren kaliii *-*
BalasHapusmantap gan lanjutkan
BalasHapusmantep deh pokoknye
BalasHapusGak yakin ni buatan sendiri?
BalasHapusIni buatan sendiri?
BalasHapusNot bad
BalasHapusNgakak bro :v
BalasHapusNiceee
BalasHapusNiceee
BalasHapusMantap
BalasHapusperbanyak artikelnya ya nak ...
BalasHapus